Agen Judi Bola – Ini Bisa Jadi Musimnya Mereka

Agen Judi Bola – Prospek menyaksikan Steven Gerrard, dengan segala kebajikan dan ketulusan hatinya, mengangkat trofi Premier League tiba-tiba terlihat lebih menarik dibanding dengan alternatif yang mungkin terjadi.

Kemungkinan melihat SGerrard akhirnya bisa mencium piala, setelah bertahun-tahun hanya bisa mencium kamera, membuat kepala pusing bukan kepalang. Tapi setelah kemenangan melawan Manchester City akhir pekan lalu, kita semua tahu bahwa this could be their year — ini bisa jadi musimnya mereka — bukan lagi cuma kalimat pelipur hati yang lara.

“Listen. This is gone. We go to Norwich, exactly the same. We go together. Come on!”

Apa yang dikatakan dengan berapi-api oleh Steven Gerrard kepada rekan-rekannya usai peluit akhir di Anfield hari Minggu adalah sebuah pidato singkat nan inspirasional. Kalimat tersebut tak akan salah tempat jika diselipkan menjadi dialog film-film heroik olahraga Amerika seperti Remember The Titans atau Any Given Sunday. Pemilik Liverpool, John W. Henry yang orang Boston itu mungkin bisa menelepon Aaron Sorkin dan meminta penulis skenario kenamaan tersebut untuk menciptakan karakter fiktif berdasarkan kepemimpinan Stevie G.

Fans Manchester United yang menyaksikan video motivasi Gerrard tersebut pasti berharap bahwa Gerrard bukan pemain Liverpool karena jauh di dalam lubuk hati, mereka tahu bahwa orasi Gerrard tersebut adalah sesuatu yang keren. Oh betapa fans United mengharapkan ada pemain mereka yang bisa melakukan hal yang sama setiap pertandingan, membakar semangat tim dengan retorika dan kemampuan verbal yang memikat. Wayne Rooney? No chance.

Air mata Gerrard seusai pertandingan adalah air mata tanah perjanjian. Liverpool tak pernah sedekat ini dengan gelar juara Premier League dan terakhir kali mereka jadi juara liga adalah pada tahun 1989 saat Raheem Sterling saja belum lahir. Sekarang nasib Liverpool berada di tangan mereka sendiri. Terserah pada mereka jika mereka ingin menjuarai liga. Menangkan semua partai yang sisa dan tidak peduli betapa Manchester City tiba-tiba mengamuk dan membantai semua lawan dengan skor dua digit, trofi Premier League tetap akan bersemayam di sisi merah Merseyside.

Brendan Rodgers adalah figur yang istimewa karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, anda merasa sulit untuk tidak suka pada manajer Liverpool. Rafa Benitez kadang bisa sangat menggelikan dan tidak bisa ditolerir, dan “King” Kenny Dalglish di kesempatan keduanya menjadi manajer Liverpool terlihat seperti mengidap Post-Power Syndrome. Tapi Rodgers berbeda, ia terlihat menawan dan mudah disukai sehingga kita tidak akan mengungkit-ungkit lagi bagaimana ia mencoba terdengar seperti mahasiswa doktoral ilmu filsafat di Being Liverpool.