Agen Sbobet – Sihir The Saints

Sim salabim, abracadabra. Itu yang sering diucapkan setiap pesulap di seluruh dunia. Setelah mantra itu diucapkan, mereka lalu memperlihatkan trik-triknya untuk menghibur penonton.
Di dunia sepakbola, skill seorang pemain di lapangan pun bisa seperti sulap. Jika memukau, penonton di stadion akan bertepuk tangan. Permainan individu maupun kolektif sebuah tim adalah sebuah seni pertunjukan tersendiri, yang oleh karenanya olahraga ini begitu digila-gilai orang di seluruh dunia.

Bukan sulap bukan sihir pula bahwa sepakbola juga tidak bisa terlepas dari sebuah hasil buruk dan baik. Mari kita bahas Southampton. Klub ini pernah menorehkan catatan buruk di tahun 2005. Setelah bertahan lama di kasta tertinggi di Liga Inggris sejak 1978, di ahir musim 2004/2005 mereka terdegradasi ke divisi Championship.

Kesulitan keuangan yang melanda The Saints membuat penampilan teknis di atas lapangan pun menurun. Akibatnya, jangankan segera kembali ke Premier League, mereka bahkan harus bertahan di divisi itu selama empat musim. Paling celaka adalah, mereka harus turun kasta lagi ke League One, yang merupakan level ketiga di Liga Inggris, pada musim 2009/2010.

Kenyataan mengenaskan itu memaksa manajemen bereaksi dengan sangat cepat. Mereka melakukan perubahan-perubahan, dan hasilnya mereka hanya satu musim saja bermain di League One. Rickie Lambert, Adam Lallana, Jose Fonte dkk. berhasil membawa Southampton kembali naik ke Championship Division setelah mereka menjadi runner-up di musim 2010-2011, di bawah arahan pelatih Nigel Adkins.

Hal baik lain yang dinanti-nantikan dan akhirnya datang di tahun 2011 adalah sponsor. Perusahhan IT bernama AAP menjalin kontrak 3 tahun untuk menjadi sponsor utama Southampton. Gelontoran dana itu membuat klub ini mampu cepat membenahi kondisi keuangannya serta membeli beberapa pemain penting untuk dapat bersaing kembali promosi ke level tertinggi.

Dengan tambahan beberapa pemain baru, Adkins pun berhasil meningkatkan performa Southampton dan finis sebagai runner-up divisi Championship di musim 2011/2012. Selain akhirnya kembali ke Premier League, penyerang mereka, Lambert, juga tampil sebagai topskorer dengan 27 gol dan meraih gelar Player of the Year. Adkins layak diberi credit point karena hanya dalam waktu dua tahun berhasil “menyulap” timnya promosi dua tingkat: dari League One ke Premiership.

Memasuki lagi gerbang kasta tertinggi Liga Inggris di musim 2012/2013, Adkins memimpin Southampton dengan kepercayaan diri yang lebih. Ia merekkrut gelandang Uruguay, Gaston Ramirez, serta striker Jay Rodriguez dari Burnley. Ramirez bahkan dijadikkan pemain termahal dalam sejarah klub, saat dibeli seharga 12 juta poundsterling dari Bologna. Ia berharap Southampton lebih kompetitif saat bersaing lagi di Premier League.

Namun, “sihir” Adkins di musim itu tidak berjalan baik karena Southampton harus terpuruk dan sulit beranjak dari papan bawah. Langkah mengejutkan dilakukan oleh manajemen dengan memecat Adkins di tengah musim, dan mereka menunjuk pelatih asal Argentina Mauricio Pochettino sebagai penggantinya.

Siapakah Pochettino?? Dia adalah mantan bek tengah yang tampil sebanyak 20 kali buat timnas Argentina. Laki-laki 41 tahun itu sebelumnya menangani Espanyol selama 3 musim, dari 2009 sampai 201 dengan rekor 53 kali menang, 38 seri dan 70 kali kalah. Meskipun tidak bersinar tapi dialah pelatih yang berhasil menyelamatkan Espanyol dari jurang degradasi dengan pemain bintang seperti Raul Tamudo dan Pablo Osvaldo. Pun demikian akhirnya karier Pochettino di Espanyol tamat pada November 2012 karena timnya tampil buruk.

 

Tapi bagi Chairman Southampton Nicola Cortese hal tersebut bukan masalah. Pada 18 januari 2013 Pochettino ditunjuk untuk menjadi manager yang baru dengan misi bertahan di Premier League musim itu. Gebrakan Pochettino diperlihatkan dengan hasil yang memukau yaitu mengalahkan Manchester City 3-1, Liverpool 3-1 dan Chelsea 2-1 musim lalu. Sungguh prestasi luar biasa bagi pelatih muda ini. Dan hasil kongkret dari kerjanya musim lalu adalah mampu menyelamatkan Southampton dari zona degradasi. Misi terpenuhi. The Saints finis di peringkat ke-14.

Pochettino membuat perubahan dalam skuat musim ini dengan mendatangkan beberapa pemain bintang seperti Pablo Osvaldo dari AS Roma, Victor Wanyama dari Celtic, dan Bek tengah timnas Kroasia Dejan Lovren senilai 39,5 tuta euro. Dana transfer yang tergolong fantastis untuk klub seperti Southampton itu setidaknya membuahkan hasil. Southampton berhasil menyodok ke papan atas. Setelah 11 pekan mereka berada di peringkat ketiga (!), hanya di bawah Arsenal dan Chelsea.

Hanya kebobolan 5 kali juga menunjukkan kuatnya pertahanan Southampton. Sejauh ini mereka adalah tim yang paling sedikit dijebol tim-tim lawan di liga. Pochettino pasti tahu betul cara bertahan karena dulunya dia seorang center back.

Fenomena klub semenjana yang menyembul ke atas di awal musim Liga Inggris bukanlah hal yang aneh. “Nanti juga akan turun”, kira-kira begitu prediksi umumnya. Tapi, bukan mustahil pula apabila tim-tim semenjana itu, termasuk Southampton, bisa menjaga konsistensi permainannya, sehingga terus menjadi kuda hitam.

Konsistensi itu akan diuji dari pertengahan November sampai Desember mendatang. Berturut-turut Southampton akan bertemu Arsenal, Chelsea, Aston Villa, Manchester City, Newcastle United, dan Tottenham Hotspur! Inilah tantangan sebenarnya yang harus dibuktikan, seberapa memukau sesungguhnya “sihir” The Saints ini.